Tentang Kepastian

“Teorinya sih bagus, prakteknya gimana?”, begitu ujarnya menanggapi sebuah postingan yang bernuansa inspirasi dalam sebuah grup WA. Dia adalah salah satu role modelku sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah, bangku paling belakang tepatnya, bangku dimana kami masih bisa bermain kartu remi sambil makan gorengan saat pelajaran Bahasa Indonesia. Ampuni kami Pak Guru, tolong jangan tempeleng kami!

Dia juga yang berperan besar merubah pola pikir, ketidakbisaanku akan pelajaran matematika dan fisika menjadi sesuatu yang aku sukai (waktu itu).

Di jaman dimana nama Mario masih berkonotasi sebagai gim konsol anak anak,  bukan nama seorang motivator ulung, temanku satu ini dengan lantang bisa mengutip salah satu kalimat motivasi terbaik dari Einstein. “keberhasilan itu 99% keringat, 1% bakat!”. Satu kalimat yang kelak aku daur ulang melebihi botol minuman aqua, kuberikan ke siapapun yang kupikir membutuhkan.
Tapi sungguh, respon temanku ini terhadap postingan inspirasi tadi mengubah sedikit sudut pandangku tentangnya. Dia lebih skeptis atau mungkin realistis, aku tak pasti. Tapi keberubahan itu nampak pasti bila dibandingkan idealisme satu setengah dekade lalu, saat kami masih jumawa dalam kemudaan.
Dia bukanlah satu-satunya teman, yang terhitung teman lawas yang berubah. Ada pula temanku satu lagi dengan tingkat viskositas otaknya tak jauh beda dengan otak “einstein” tersebut yang berubah menjadi sangat apatis tentang segala hal. Padahal dulu, begitu aktif dalam memperjuangkan idealismenya.
Dan seterusnya bila aku catat, lebih dari sekodi teman lawas yang telah berubah bentuk pikirannya. Ada yang dulu idealis menjadi skeptis, yang konservatif jadi liberal, yang dulu slengekan jadi super alim, dan lain sebagainya.
Ini tentu saja bukan tentang membuat sebuah gosip tentang orang lain, tapi pengamatan dari sepasang mata bola sempit ini seakan ingin mencari sebuah benang merah tentang perubahan ini dan mencari cara menyikapinya atas nama memahami ketidakpastian.
Janganpun tali pertemanan, tali kekeluargaanpun rentan tegang bila menghadapi perubahan bentuk pikiran. Ya karena pada dasarnya manusia suka yang pasti pasti aja.  Maka wajar bila Pertamina memakai slogan “Pasti Pas”, sebuah pesan subliminal biar tetap menjadi perusahaan yang disukai meski harga bensin berubah terus (dan direksinya ganti terus). Seorang istripun, pasti tambah cinta kepada suami yang istiqomah, pasti memberikan jatah bulanan 50 juta rupiah lengkap dengan emas berlian, dibayar tunai.
Maka wajar bila Mbah Soeharto, sangat dibenci hama,  dicintai petani. Lha gmn, yg ga cinta di dor, modyar, tapi juga karena dia menerapkan GBHN dengan kepastian jangka panjang yang didetilkan di repelita lima tahunan.  Presiden jaman now mana mampu Jendral. Lima tahun jabatan senam jantung, setahun pertama mberesi ontran ontran, 2 tahun terakhir ngurusi kampanye. Maka wajar bila ada yang sablon kaos #2019gantipresiden,  karena selain menyalurkan kebebasan berpendapat juga ingin kepastian. Apakah mereka nanti pasti diciduk atau tidak …
Meskipun di dunia yang penuh ketidakpastian ini akhirnya aku menemukan, bahwa satu satu yang yang bisa dipercaya adalah Agnes Monica, karena dia pernah berkata, “life is never flat!”. Begitu juga Bumi..
Ealah postingan dowo dowo ujung e flat earth maning Son…
Gimana? Kecewa kan baca postingan yang ga pasti temanya ini… Hehe

Pemanfaatan Data dari Dunia Digital untuk Pemilihan Suara

Perkembangan Teknologi Informasi saat ini sudah tidak terbendung dan  penggunanya menjadi konstanta politik yang dominan saat ini. Menurut data hasil survei dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) selaku badan penyelenggara Internet di Indonesia menyebutkan bahwa sebanyak 143,26 juta jiwa dengan komposisi 49,52 nya di usia 19-34 tahun. Sebuah segmen pemilih yang sangat gemuk, juga bila dibandingkan dengan usia rata-rata penduduk Indonesia adalah 28,6 tahun pada 2016, dimana masuk termasuk di rentang usia tersebut. Tentu saja statistika dari klasifikasi pemilih akan dapat diurai lebih dalam dan detail lagi bila merujuk pada sebuah Daerah Pemilihan (DAPIL).
Sehingga wajar bila ada yang menyimpulkan bahwa keberhasilan kampanye digital berimbas secara langsung pada hasil kampanye nyata. Salah satu contoh nyata adalah kemenangan tidak terduga dari Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat. Meskipun beberapa hal yang terkuat terkesan negatif seperti skandal penambangan data melalui media sosial Facebook yang dikenal sebagai Cambridge Analytica Scandal, dimana tim digital Trump mampu memperoleh database calon pemilih lengkap dengan analisa psikologinya sehingga hasilnya dapat digunakan secara langsung, fokus pada segmen pemilih yang memang didapatkan dari hasil analisa data tersebut.
Lain dengan pendekatan kualitatif yang lazim dilakukan pada kampanye pemilihan di Indonesia, kampanye digital bersandar pada pendekatan kuantitatif, dimana setiap hasil analisa dari data yang didapat merupakan suatu metrik yang dapat diukur dengan angka. Pendekatan kampanye digital berdasarkan data ini adalah salah satu solusi, bila tidak satu satunya solusi yang mampu menjawab kebutuhan dari kandidat terpilih yang menginginkan efisiensi biaya serta upaya yang fokus dan dapat diukur.
Pecahkan Kotak Suara dengan Palu yang berbeda
Seperti layaknya sebuah medan pertempuran, hal pertama yang pasti dilakukan oleh kontestan politik adalah menyusun, minimal “Strength & Weakness”, untuk masing-masing kontestan politik yang berlaga pada sebuah pemilihan (daerah, legislatif, maupun presiden). Kerangka analisa yang umum juga dilakukan adalah menggunakan teknik SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, & Threat). Hal yang mungkin dicermati dalam konteks digital adalah analisa SWOT ini dalam ranah kampanye digital sebagai contoh :
  • Strength : Media sosial atau platform internet dimana kontestan mempunyai pengikut (followers) terbanyak.
  • Weakness : Media sosial atau platform internet dimana kontestan mempunyai pengikut (followers) paling sedikit.
  • Opportunity : Media sosial platform internet selain yang sudah dimiliki, dimana segmen pemilihnya banyak berada di platform tersebut.
  • Threat : Media sosial atau platform internet atau digital footprint yang bisa digunakan sebagai materi kampanye hitam oleh lawan.

Hasil akhir dari seorang kontestan politik dalam konteks politik adalah mendulang suara sebanyak mungkin. Dan dalam fase terakhir pemilihan, terdapat istilah yaitu “Get out Vote”, dimana saat ini belum ada yang mengalahkan metode “canvassing”, menurunkan agen-agen ke area kotak suara untuk memastikan calon suara (yang bakal memilih kontestan tersebut) tidak berubah ke pihak kontestan lain. Ini adalah fase dimana tim sukses menggunakan senjata pamungkasnya, mempertaruhkan setiap rupiah yang tersisa untuk memastikan kontestan yang terpilih.

Apa saja faktor terpenting dalam marketing digital untuk politik

Seorang professor bernama Danny P Wallace, pernah menjelaskan sebuah konsep yang bernama DIKW pryramid. Piramida yang merepresentasikan sebuah hubungan rasional antara Data, Information, Knowledge, & Wisdom, dimana relasi ini sangat efektif dan efisien dalam membuat sebuah keputusan strategis. Dalam konteks pemilihan, maka untuk merumuskan sebuah strategi dan taktik yang efektif, maka diperlukan sebuah proses penyaringan dari data yang tersebar, diolah menjadi informasi yang bisa berguna, dan menjadi knowledge yang cukup bisa dipahami dalam konteks pemilihan. Sehingga wajar, bila dikatakan bahwa pondasi dari strategi adalah data terkumpul yang dianalisa. Sayangnya, pendekatan kuantitatif ini masih jarang diimplementasikan dalam khasanah politik timur yang kental dengan pendekatan kualitatif.

 

Platform Kampanye Digital

Data-data dari calon pemilih tentu saja saat ini sudah berserakan di internet, berbagai macam footprint sudah dengan sukarela terekam di dunia internet, terlebih lagi media sosial.  Berbagai macam plaftorm yang sangat mungkin digunakan untuk mendulang data ini antara lain :

  1. Media Sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dsbnya).
  2. Website
  3. Mobile Apps
  4. External Tool
  5. External Data Collections
Ketiga Platform pertama adalah platform yang bisa digunakan bila ingin mendapatkan data yang lebih detil dan mendalam. Media sosial seperti Facebook, lebih tepatnya lagi fitur iklan yang mereka miliki sudah sedemikian cerdas mampu menargetkan “audience” atau target pemilih yang dikehendaki. Tentu saja Facebook bukanlah platform pendulang data, tapi dengan menggunakan platform iklan mereka, terdapat beberapa data yang bisa dimanfaatkan oleh kontestan dan jalur distribusi informasi yang terukur. Dan bahwa Facebook adalah sebuah entitas besar, maka fleksibilitas yang diberikan sudah mempunyai standar tertentu. Skandal sejenis dengan Cambridge Analitica adalah salah satu bukti bahwa platform ini adalah sebuah platform yang sangat potensial untuk dieksplorasi dan dieksploitasi dengan cara tertentu (dalam hal Cambridge Analitica teknik eksploitasi yang dipilih sudah diluar standar etika, pun standar yang diberikan oleh Facebook).
Website dan Mobile apps yang fokus tentang sang kontestan pada hal ini bisa menjadi pendulang data yang lebih dalam karena dua hal. Pertama karena platform ini adalah milik sang kontenstan, maka tidak ada standar dari pihak lain (seperti dalam penggunaan media sosial). Hal kedua adalah sudah tersedianya perangkat lunak analisa baik yang berbayar maupun tidak berbayar. Meskipun begitu kedua platform ini tidak bisa dibilang efektif karena untuk mendapatkan pengunjung asli ke website maupun pendownload apps tidak semudah yang dibayangkan. Diperlukan langkah-langkah tertentu untuk mengefisienkan kedua platform ini.
Di lain pihak, kedua platform terakhir bisa dianalogikan kita “outsource” kan masalah kampanye digital ini ke pihak lain. Ada pelbagai tool di luar sana yang bisa digunakan untuk mendulang dan menganalisa data, pun kontestan dapat membeli data dari pihak lain. Masalah utama dari pendekatan ini tiada lain adalah tentang validitas dari data yang didapatkan. Pun data yang didapatkan memang valid, kohesivitas antara data-data ini dalam agenda kontestan akan sangat berkurang bila dibandingkan dengan metode-metode sebelumnya yang sudah disebutkan.
Kalau Donald Trump Bisa, Siapapun juga Bisa !
Ada berbagai analisa tentang kemenangan mengejutkan dari seorang Donald Trump. Hal-hal yang berkaitan dengan kampanye digital yang dia lakukan yang bisa diambil antara lain :
  1. Totalitas. Dibandingkan dengan lawannya, Hillary Clinton yang menghabiskan dana berpuluh juta dollar untuk melakukan iklan pada media konvensional, Trump terlihat jauh lebih total dalam hal kampanye digital. Hal ini tidak melulu tentang besaran dana yang dianggarkan. Dari pemilihan Tim yang tepat, Di bawah radar (Tidak ada yang tahu tentang entitas Cambridge Analytica sebelum kasusnya terkuak), Kreatifitas tinggi ( berbagai format iklan, puluhan ribu per hari diproduksi dalam fase tengah kampanye Trump), Cerdik dalam menangkat peluang (Opportunity di sini adalah eksploitasi celah dalam facebook meskipun secara etika bukan hal yang baik, tapi secara hukum masih dalam area abu-abu).
  2. Genuine. Pribadi Trump yang cenderung blak-blakan sangat kental dan dilakukan tanpa batas di media sosial yang dia miliki. There is no bad marketing. Meskipun banyak kritik tentang kepribadiannya, kepribadiannya yang asli dan minim penyaringan terlihat di media Twitter, dimana Trump sendiri yang mengelola.
  3. Pola pikir yang tepat tentang kampanye digital. Bahwa Kampanye digital semata digunakan sebagai “leverage”, untuk mendapatkan “vantage point”. The Man behind the gun serta eksekusi dalam kampanye nyata pada akhirnya yang menentukan hasil akhir dalam fase Get out Vote.
  4. Begitu hasil analisa mendapatkan segmen “swing voters” mempunyai angka yang significant, Tim sukses secara fokus membuat strategi khusus untuk mendapatkan suara dari segmen tersebut.
Tentu saja, strategi-strategi yang digunakan Trump tidaklah bisa ditiru dalam konteks pemilihan di Indonesia. Harus disadari bahwa secara sistem politik yang berbeda, audience yang berbeda maka pendekatannya pasti berbeda. Demikianpun, bila ada hal yang bisa dilakukan dalam konteks pemilihan di Indonesia, maka sangat diperlukan akulturasi budaya dari sisi setiap metodenya.
Satriyo, Klaten 16 April 2018

Balik Deso, Mbangun Deso

Ada beberapa kegiatan yang bersifat sosial yang ingin aku lakukan semenjak memutuskan untuk kembali ke kota Klaten, kota kelahiranku. Untuk memberi kontribusi yang nyata, tidak hanya berupa memindahkan sumber daya dan bisnis ke Klaten (yang akan aku ceritakan lebih detail di tulisan lain). Salah satunya adalah memberikan pelatihan IT gratis kepada warga klaten, dengan fokus peserta adalah anak muda klaten, lulusan SMA atau masih berstatus sebagai pelajar.
Kenapa Pelatihan IT gratis, kenapa pelajar/lulusan SMA ? karena aku yakin, bahwa saat ini adalah era yang tepat untuk memperolah penghasilan dan penghidupan yang layak tanpa harus merantau ke kota lain, Jakarta misalnya. Sebuah era, yang didukung dengan teknologi komunikasi berupa internet, social media, dan mudahnya berkolaborasi dengan berbagai perangkat lunak adalah sebuah kesempatan emas yang seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para pelajar atau lulusan SMA (bahkan tanpa mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan perguruan tinggi karena pelbagai alasan). Saking yakinnya, bukti nyatanya ya aku sendiri, aku berani bertaruh nasib memindahkan bisnis dan keluarga kembali ke kota kelahiran kami. Bukan tanpa halangan tentunya, tapi halangan halangan secara umum tidaklah sebesar pada era yang lalu dimana untuk berkomunikasi jarak jauh membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan opsi yang sangat terbatas (masih ada yang ingatkan era dimana kita ke WarTel – Warung Telepon, dimana kita harus antri dengan penelepon lain, dan saat membayar muka kita jadi masam ? ).
Jadi, apa saja materi pelatihan IT ini ?
Tujuan dari pelatihan ini sudah tersebutkan di paragraft sebelumnya, hasil akhirnya adalah sebuah kemandirian ekonomi yang dilandasi pada era digital, era internet, era komunikasi, era media sosial. Maka daripada itu, materi yang akan disampaikan, meskipun fokus pada kemampuan dasar, seharusnya sudah bisa digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, antara lain :
  1. Pengetahuan dasar tentang Internet, bagaimana Internet berjalan dan berfungsi, apa saja komponen dasarnya.
  2. Pengetahuan dasar tentang peluang-peluang serta kegiatan-kegiatan yang berdasarkan koneksi Internet yang bisa dilakukan dan menghasilkan secara ekonomi.
  3. Pengetahuan dasar teknis tentang menggunakan membuat website sebagai identitas digital.
  4. Pengetahuan dasar teknis tentang meningkatkan hasil penjualan online.
  5. Pengetahuan dasar teknis tentang desain grafis yang bisa digunakan untuk mendongkrak hasil penjualan online.
  6. Pengetahuan dasar teknis tentang bagaimana mengiklankan produk di dunia Internet.
  7. Pengetahuan dasar tentang SEO (Search Engine Optimisation).
  8. TBD
Tentu saja semua materi tersebut akan berkembang mengikuti peserta yang hadir, bagaimana mereka berhasil merespon, mencerna, dan menggunakan hasil pelatihan dalam kehidupan nyatanya. Semoga memberi manfaat untukku, untukmu, dan untuk masyarakat Klaten.

RIP Stephen Hawkings

Okay, jadi kemarin salah satu ilmuwan terkemuka di bidang fisika, Stephen Hawking meninggal dunia. Turut berduka cita ? Hmm….mungkin, tapi sangat sedikit.

Aku mengenal Stephen Hawking hanya lewat artikel-artikel singkat yang bersliweran di Internet mengenai Teori-teori fisika yang menceritakan tentang asal muasal alam semesta serta punya bukunya. Ya mesti harus diakui membaca teorinya dan bukunya tidak akan semudah seperti mencerna sebuah film biografi tentang masa muda dan romantisnya dia yang berjudul the theory of everything.

 

Ya seperti judul film yang menceritakan tentang dirinya, hidup seorang Stephen Hawking ini didedikasikan secara khususon untuk mencari tahu, merumuskan suatu formula yang dia sebut Theory of Everthing tersebut untuk dapat mengungkapkan tabir misteri terbesar alam semesta, penciptaannya, bagaimana asalnya serta erat hubungannya dengan ruang dan waktu. Kalau yang tertarik ya bisa saja mungkin membaca lebih detail di seri buku-bukunya dia.

Meninggalnya Stephen Hawking ini pasti meninggalkan duka tentu buat keluarganya, tapi juga menimbulkan balada tersendiri, terutama bagi warga negara Indonesia.

-Stephen Hawking, ilmuwan Atheis meninggal dunia

-Surga adalah dongeng bagi manusia yang takut kegelapan

-Tuhan itu tidak ada menurut Stephen Hawking

Pemberitaan media nasional tidak jauh-jauh dari bingkai tema ini dalam rangka menaikkan oplah akses digital mereka. Sepertinya paham betul media-media ini bahwa membenturkan seorang ilmuwan yang kesehariannya lekat dengan metode ilmiah dan kepercayaannya tentang Tuhan adalah hal yang (sangat) menarik dibaca oleh khalayak umum PAS HARI KEMATIANNYA !.

Boro-boro dalam pemberitaannya menjelaskan sedikit tentang konsep singularitas, black hole, kaitannya dengan Teori Relativitas Umumnya Einsten, kok aku ga yakin bakal ada yang menyebutkan Big Bang..(bukan tayangan komedi Big Bang – yang mana memang isinya sarkasme tentang ilmuwan sih).

Kenapa kok balada ? ya karena orang kita itu masih banyak  yang suka dengan namanya bias statistika yang digabungkan dengan silogisme sesat level akut. Kalau ada satu A yang menonjol dan melakukan X, maka bila menjadi A kamu akan melakukan X. Padahal data tentang populasi A nya sendiri ga pernah dicek, atau prosentase yang melakukan X masih misteri. Ye kan ?. Jadi ini membawa kesimpulan berbahaya bahwa, Ilmuwan itu “kebanyakan atheis”! atau lebih parah lagi….Orang itu kalau pinter, jadi atheis ! Nah loh, ini sih bukan lagi balada namanya, Bencana Nasional !

Maudie – Film Romantis yang tidak picisan

Susah memang menemukan film dengan genre romantis yang bagus. Ya, meskipun bagus ini dalam pemikiran subjektifku bisa jadi bisa sangat beda dengan orang lain. Film romantis , menurutku ada beberapa hal yang harus lolos, agar supaya menjadi bagus

  1. Sangat tidak tergantung dengan aktor dan aktris yang rupawan (dan rupawati ? 🙂 )
  2. Tidak menampilkan prosesi hura hura, hedonisme, pamer kekayaan
  3. Alur cerita yang logis, jadi tidak semua harus happy ending. Tidak happy ending bukan berarti juga sad ending lho !

Ya ketiga faktor tersebut sih aku temukan di film dengan judul “Maudie”. Diangkat dari sebuah kisah nyata dari seorang Maud Lewis, seorang artis folk art yang tinggal di salah satu provinsi kecil yang dikelilingi lautan bernama Nova Scotia di Kanada. Sebuah film yang aku tonton bersama istri pada suatu malam, di sebuah rumah yang baru kita tinggali belum ada seminggu ini :).

Folk art sendiri bisa berarti sebuah seni rakyat, seni tradisional, sebuah seni praktis yang tidak tergolong dan terpengaruhi oleh industri dan akademisi, begitulah kira-kira definisinya. Sebuah definisi yang menggambarkan dengan persis seorang Maud Lewis dalam film tersebut. Seorang wanita pelukis yang hidup dengan reumatik sepanjang hidupnya, berjalan dengan pincang dengan punggung bongkok, dan cara memegang kuas lukis yang sungguh berbeda dengan orang kebanyakan. Terbuang dari keluarganya, Maud, begitu dia dipanggil, menolak untuk menjadi seorang dengan label cacat, dengan nekad, menjalani hidup mandiri dengan menjadi seorang “house keeper”, ya kalau di Indonesia ini seperti asisten rumah tangga dari seorang pencari ikan.

Pun begitu, keputusan mandiri dari Maud ini mengubah jalan hidupnya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tresno jalaran seko kulino, kalau kata orang jawa. Maud akhirnya menikah dengan Everett pencari ikan, yang diperankan secara apik oleh Ethan Hawke. Meskipun pada awal penampilkan karakter Everett adalah seorang lelaki paruh baya yang kasar, dalam film tersebut terlihat support yang luar biasa dari Everett terhadap passion dari Maud, yang diperankan oleh Sally Hawkings.

Tidak hanya menemukan suami, yang menjadi pendamping selama hidupnya. Maud akhirnya menemukan satu-satunya passion alam hidupnya yaitu melukis. Dengan gayanya sendiri melukis, bagaimana dia mendapatkan inspirasi melukis, penggunaan warna-warna dalam lukisan serta objek lukisannya, membuat suatu ciri khas tersendiri. Berawal dari kartu-kartu kecil, Maud mulai melukis pada media lukis yang lebih besar yang pada puncaknya, salah satu lukisannya dibeli oleh Presiden Nixon.

Dalam film ini, romantisme tidak hanya digambarkan dari hubungan antara dua manusia. Tapi lebih dalam, yang menjadikan film ini istimewa adalah romantisme dilihat dari sudut pandang bagaimana seorang dengan kemampuan yang terbatas, tetap jujur pada diri sendiri tanpa menjadi orang lain, menjalani hidup dengan sederhana meskipun karyanya mendunia, dan perjuangan tanpa henti dari seorang manusia yang tinggal dalam sebuah rumah mungil di daerah pinggiran (yang sekarang menjadi sebuah galeri, museum yang menampilkan juga karya-karyanya). Dalam kehidupan akhirnya, Maud meninggal karena pneumonia, Suaminya pun meninggal sembilan tahun setelahnya, dibunuh, dalam percobaan perampokan yang terjadi di rumahnya. Sad Ending ? tentu saja sangat tergantung bagaimana kita melihatnya.

We are back

setelah vakum beberapa bulan, akhirnya kami kembali.

Ada banyak yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir sehingga tulisan-tulisan kami di sini tidak begitu terupdate, atau malah tidak diupdate sama sekali. Salah satunya adalah proses perpindahan kami dari Jakarta ke kota kelahiran saya dan istri. Pun begitu efeknya terhadap sekolah dari anak-anak yang ikut berpindah, kegiatan kamipun mulai berpindah, termasuk rutinitas kami.

 

Okay, tanpa banyak basa-basi lagi, nantikan tulisan-tulisan kami selanjutnya. Stay tuned !

UTS Hari Ketiga

Assalamu’alaikum

Hari ini kegiatan setelah bangun tidur seperti biasa

Aku berangkat masih diantar papa

Sesampainya disekolah, aku langsung bari karena sudah bel

Lalu mulailah baca Asmaul Husna

Dan waktunya tlah tiba untuk UTS Tematik Tema 1

Setelah selesai ulangan nggak ada istirahat untuk kelas 4

Karena kelas 4 setelah ulangan langsung pulang

Sebelum pulang, ada Review Tematik Tema 2

Dan kita pun pulang

Sesampainya dirumah, aku langsung ganti baju

Lalu main dan mandiin mas kembar

Lalu aku nonton film sampai Maghrib

Hehehehehehehe……

Setelah nonton, aku langsung membaca buku paket Tematik Tema 2

Lalu aku mandiin dedek

Setelahnya aku dan kakak Ken yang mandi

Lalu aku shalat  maghrib, lalu nyiapin yang buat besok

Lalu aku ngerokin mama

Lalu aku maem, dan tidur

Wassalamu’alaikum

UTS Teori Kedua

Assalamu’alikum

Aku setelah bangun tidur aku kegiatannya seperti biasa

Aku berangkat diantar papa

Sesampainya disekolah, dikelas masih ada beberapa anak

Lalu datang, lagi, lagi, dan lagi

Sampai bel masuk nggak ada yang terlambat

Lalu sebelum memulai, kita membaca Asmaul Husna

Lalu selesai membaca Asmaul Husna, langsung terdengar bunyi bel memulai ujian

Lalu saat selesai, kita langsung istirahat sampai bel masuk

Lalu mulailah pelajaran / ulangan kedua

Alhamdulillah aku lancar, nggak ada yang bingung

Aku pun pulang

Aku nggak langsung pulang soalnya kan ini hari selasa, jadi kakak ken les balet dulu

Tapi sebelum les balet, kita kerumah sakit dulu

Soalnya kelingking kanannya kakak bengkak

Karena waktu hari senin, kakak baru lompat” terus jatuh, mungkin kata mama kelingkingnya buat nahan

Lalu selesai RS, kita langsung capcus ke bona indah

Selesai dari bona indah, kita langsung pulang

Sampai dirumah kita langsung ke indomart

Lalu pulang lagi

Dirumah aku makan choki, mandi lalu belajar

Mama mau ke K24, aku ikut

Sesampainya dirumah aku melanjutkan belajar

Selesai belajar, aku pun tidur

Wassalamu’alikum

 

Membuat Seblak

Assalamu’alaikum

Bangun tidur, aku langsung mandi, makan dan langsung berangkat

Disekolah, aku langsung main sama temen-temen

Lalu saat bel masuk, aku langsung baris

Setelah baris aku langsung masuk kelas

Lalu kita baca doa, dan mulailah pelajarnnya

Sampai pelajaran yang ditunggu yaitu KD, singkatan dari Kecakapan Diri

KDnya membuat seblak perkelompok

Yeeeeeeyyyyyyy……….

Yang masak sebagian besar aku

Setelah selesai, kita lahap bareng-bareng, sampai habis……

Lalu kita pun pulang

Sesampainya dirumah, ternyata nggak ada orang

Tapi aku bisa masuk karena kuncinya disimpan diluar

Lalu aku ganti baju, trus nonton film

Mama papa pulang, aku main diluar deh pakai sendal baru

Hihihihihihihihiihhi……..

Lalu kita masuk karena sudah maghrib

Lalu aku mandi, shalat maghrib, dan baca Al-Qur’an

Lalu aku shlat isya’

Aku nyiapin yang buat besok, lalu tadinya mau mijet mama dulu, tapi aku dah tidur

Heeheheheheh…….

Wassalamu’alaikum

Nganter Kakak Les

Assalamu’alaikum

Hari ini aku bangun seperti biasa

Setelah mandi dan maem, aku langsung berangkat

Disekolah itu seruuu……. banget……..

Sampai akhirnya kita pun pulang

Sesampainya dirumah, aku langsung ganti baju

Karena aku ikut mama nganterin kakak ballet

Setelah kakak selesai, sambil menunggu ubernya, kita beli Chatime

Sesampainya dirumah aku langsung nonton film yang ditonton papa

Lalu aku wudhu, shalat, lalu aku ngaji sama om

Lalu aku ikut om kemasjid untuk shalat Isya’

Setelah itu aku dirumah pakai masker dari kentang

Lalu aku pun langsung mandi

Lalu aku nyiapin yang buat besok

Aku njemur baju, lalu aku tidur deehhh…

Wassalamu’alaikum